Ketika saya mau pulang kampung, Saya bertemu dengan seseorang, Beliau adalah seorang supir bus. Kebetulan saya duduk di belakang supir dan waktu itu belum rame penumpang. Lalu beliau bercerita, awalnya saya tidak tertarik tapi dipertengahan cerita saya mulai tertarik. Saya dengar ceritanya dengan serius.
"13 tahun yang lalu saya kehilangan seseorang, dia adalah tunangan saya. Dia meninggal karna tsunami ketika dia pulang kampung di Sabang. Setiap tahun saya mencarinyaa tanpa henti karna saya terlalu percaya bahwa dia masih hidup. Tapi hasilnya sama saja, dia memang telah tiada. dia meninggal setelah 2 tahun kami bertunangan, waktu itu dia masih kuliah semester 3 dan saya sudah bekerja sebagai supir, membiayai dia kuliah, menuruti apa yang dia inginkan dan selalu menemaninya. Setelah sekian lama kepergian nya saya masih merasa kosong sampai pada tahun ke 10 saya bertemu dengan seseorang yaitu istri saya, menikah dengannya dan sekarang sudah mempunyai 2 orang anak tapi saya merasa masih ada yang kurang. Bayangan masa lalu selalu saja datang, saya tidak bisa dan tidak bisa pernah bisa melupakan dia. Bayangan wajahnya masih terlihat jelas, dan saya masih ingat kapan dia lahir dan masih saya hitung berapa umurnya jika dia hidup. Setiap selesai shalat, tidak bernah absen mendoakannya. Dan yang harus saya syukuri adalah istri saya tidak pernah marah dengan masa lalu karna dia mengerti tidak seharusnya marah ataupun cemburu dengan batu nisan".